Meski tak lagi digunakan, kapur tulis menjadi sejarah yang tidak terlupakan bagi sebagian orang, dan memiliki histori tersendiri. Tentu saja sebagai alat tulis, kapur tulis membantu seseorang khususnya anak-anak untuk mengenal huruf dan belajar membaca. Bahkan sebatang kapur tulis pada masanya menjadi sangat berharga, potekan demi potekannya dikumpulkan hingga ia tak bisa lagi digenggam. Bertemankan dengan selembar papan tulis hitam, hasil tulisan dari kapur tulis tidak mengurangi nilai fungsinya ketika guru mulai berbagi ilmu. Ya, karena sebenarnya segala hal tersebut bukan terletak pada wujud benda tersebut, namun bagaimana seseorang memanfaatkannya.

Namun, seiring berjalannya waktu banyak orang yang kemudian lebih memilih dan mengelu-elukan menulis dengan spidol ketimbang kapur tulis. Selain karena dinilai lebih bersih dan simple, kapur tulis dianggap lebih berbahaya daripada spidol. Padahal jika melihatnya secara ilmiah, zat kimia pada spidol mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh. Berikut petikan mengenai aman tidaknya penggunaan spidol dan kapur tulis yang saya dapatkan dari hasil berselancar di internet.

“Kapur tulis terbuat dari Kalsium Carbonat (CaCO3). Senyawa tersebut tidak berbahaya untuk manusia, perkecualian untuk penderita asma dan gangguan pernapasan. Hal itu disebabkan CaCO3 dapat menjadi allergen. Karena partikel yang terkandung di dalam kapur tulis tergolong sebagai partikel yang besar. Partikel tersebut dapat disaring oleh bulu hidung. Setidaknya bersin atau batuk merupakan reaksi dari tubuh kita sebagai efek benda asing yang akan masuk.

Sedangkan spidol yang terlihat lebih bersih, ternyata mengandung bahan kimia beracun berbahaya. Zat kimia itu adalah xylene, kerap digunakan pada bahan-bahan pewarna. Bila dibandingkan dengan kapur dari ukuran partikel, spidol memiliki partikel yang lebih kecil sehingga otomatis bulu hidung tidak dapat memfiltrasi partikelnya dengan baik. Bila partikel itu masuk ke sistem pernapasan maka akan terasa seperti menggunakan obat penenang. Xylene sendiri dapat mengakibatkan gangguan pernapasan, pusing, sakit kepala dan hilangnya memori jangka pendek. Hal yang lebih buruk adalah kerusakan organ dan sistem saraf pusat.”

Namun, lepas dari penggunaan kapur tulis dan spidol -dan lebih penting dari itu semua- seseorang harus dapat menggunakan segala sesuatunya secara bijak. Seperti yang kita tahu, mainstream kebanyakan orang dewasa ini lebih ‘maju’ dari perkembangan teknologi. Dengan perkembangan teknologi yang sudah sangat canggih anak-anak dianggap sudah lebih pandai dengan sendirinya. Padahal kemampuan mereka untuk mencerna ilmu dan pendidikan yang diperlukan berbeda-beda.

Jadi, meski mungkin setiap orang, termasuk guru memiliki alasan masing-masing, sudah seyogianya mampu untuk bersikap bijak. Jika sekarang masa kapur tulis tidak lagi secemerlang saat kita duduk di bangku sekolah, pilih dan jadilah media di era digital ini untuk tidak sekadar bermain peran. Apalagi  seorang guru yang menurut saya memiliki tugas yang teramat sangat berat.  Meski ia pandai menggunakan spidol atau bermain dengan teknologi, namun saat di depan kelas hanya pandai memberi tugas maka output yang dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. -Salam Guru Hebat- Lz

Rindu….

Posted: September 3, 2016 in motivasi

“…karena aku bukan tupai yang pandai meloncat. Aku hanya seekor kepompong yang setia melekat di sisi daun yang mengizinkannya untuk tinggal.”
Catatan Perempuan MuslimahMungkin ini yang dinamakan rindu.. Aku hanya bisa menyebut dan membelaimu lewat doa dan harap. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat rasa itu menyeruak. Aku tahu Tuhan tidak kejam, Tuhan tidak bermaksud memisahkan kita dengan jarak, dan aku yakin Tuhan tidak setega itu. Apalagi Dia tahu, ada hati yang sedang menangis sendu. Sungguh, Dia hanya hendak  menguji kita. Ya, menguji kita lewat sepersekian milimeter  jarak dan sepersekian detik lamanya. Hanya saja kita yang terlalu berharap sehingga penantian ini terasa panjang. Dengan begitu, saat kita bertemu kita hanya ingin bersama selalu, dan tak sekalipun membiarkan waktu berlalu tanpa senyummu di sisiku.

Ah, aku memang benar-benar tak sabar ingin mengusap wajah dan mencium keningmu. Meski hanya lewat mimpi atau lintas bayangmu… Aku tahu engkau pun begitu. Karena rasa yang Dia ciptakan tak mungkin tercipta sendiri. Selalu ada hitam sehingga kita mengenal putih. Pun ada siang sehingga kita tahu ada malam yang tengah menunggu bersama bulan dan bintang. Aku merasakan itu karena rasa ini memang ada karena kamu ada. Yang juga merindu…

Jika saja Tuhan mempertemukan kita secepat kilat, rasa yang kurasa ini mungkin tak kan menjadi selekat ini. Jika Tuhan izinkan aku bersandar di bahumu sekarang, mungkin saja kau akan cepat bosan karena aku akan selalu begitu jika bersamamu.. Dan jika saja Tuhan membolehkanku menjemputmu, mungkin kau akan merasa malu dan menjauhiku.

Ya, kadang aku memang berandai andai… karena aku bukan tupai yang pandai meloncat. Aku hanya seekor kepompong yang setia melekat di sisi daun yang mengizinkannya untuk tinggal. Sehingga aku berharap ada di tempat di hatimu untukku tinggal selama-lamanya. Meski nantinya aku tak pernah menjadi kupu-kupu….

Dreamy is back..hehehehe

Posted: Februari 22, 2015 in friend
Tag:, ,

Wahhhh…seneng bingits nih bisa kembali lagi ke rumah ini ^_^ Aku pikir blogku yang satu ini sudah diblock 😀 Tapi sepertinya memang harus dirapikan lagi ya biar kayak blog-blog yang laen..-pinjem panggilan kaktus, eh kaskus- kaya blog agan dan aganwati yang keren-keren n’ kece gitu..;)

Eh, btw anyway busway siapa ya kawans yang masih aktip ngblog?boleh lha kita tukeran link 🙂 katanya kan nanti bisa nambah pengunjung:D … And karena udah lama bener ngga ngblog jadi bingung juga nih mau mulai nulis apa di sini. Mau mulai ngerapi2in? Kayaknya rempong juga ye 😀 atau mau langsung nulis aja kali ya???tapi si edi eh, si ide nya belom nongol. Trus ngapain dongs? Nostalgila aja kali ye..cek and ricek tulisan.hehehehehe.

Tapi tunggu deh, kayaknya lebih seru kalo pulang kampung gini sekaligus bikin pencerahan.. #tsah.. Kalo agan aganwati kan udah distempel kaskus tuh.. Jadi khusus kawans yang namu dimari, qt panggil aja dreamist and dreamer..cucok kan sama nama blognya yah.hehehehehhe..biar sama-sama heppi’,, happy reading, happy comment, pokoknya heppi2 ajah biar bisa nerusin mimpi’! 😀

In the part 1 of this chapter we’ve discussed about the main problem of speaking English; 1) Lack of vocabulary, 2) Lack of self-confident. Here I would love to share a little information about it.

Lack of Vocabulary

We’ve noticed that one of the problems in speaking is lack of vocabulary. Although learners interested to speak, they will be difficult to begin conversation or even only answer the question if they do not have the words. “Vocabulary is central to language and of critical importance to the typical language learner” (Zimmerman 1997: 5). Lack of vocabulary knowledge will result in lack of meaningful communication. Indonesian people also couldn’t speak Indonesian well if he doesn’t have Indonesian language enough. As Wilkins (1972) noted that without grammar, very little can be conveyed. Without vocabulary, nothing can be conveyed.

The best way to improve speaking skills is, of course, to speak in English as often as possible. It is, however, important for teachers to make effective use of speaking practice opportunities. Most of english language teachers agree that learners ability in speaking can be improve by interacting and communicating. In this case, the teachers, of course, should make an activities to provoke learners to speak in English language. When the learners have to speak, they certainly have to rich theirselves with many vocabularies. Thus, using speaking activity will take the learners into vocabulary enrichment. Nation (2001:222) believes that a large amount of vocabulary can be acquired with the help of vocabulary learning strategies and that the strategies prove useful for students of different language levels.

In addition to provoke learners to be active in speaking English, communicative language teaching is one of teaching approach which can be used by teacher. The primary goals of the course is to teach communication competence-that’s ability to communicate in English according to the situation, purposes, and roles of the participants. Henry wildowson (1978) be written in his book entitled, Teaching Language as Communication, which focuses the relationship between language system and their communicative value. It’s ability to use the language for different purposes.

Some of the advantages of using communicative language teaching approach are 1) Learners are expected to interact with other people; 2) They has opportunities to use their english to communicate purposes; 3) The activity in communicative language teaching certainly encourage them for having many vocabularies. Thus, this approach is very helpful for the learners to improve their speaking in English language. Another activities that can be used by the teachers here, e.g. little conversation, discussion, ask their opinion about something happened, or share their experience by using strory telling method in front of their clas, either individually or group.

Lack of Self-Confident

As we know, speaking is not just an element of teaching and learning language achievement, it’s an important skill in human interaction. Any person who has good ability in speaking, he can build relationship easly. In social community, speaking ability also means that someone has good personality. But, speaking in English language with confident is not easy.

Most of learners may be have vocabularies and good grammatical enough, and also expected to speak in English language, yet only few of them succed to communicate with another by using English language. Some of them feel nervous when the teacher asked them to say something in front of the class. However, the English language is different with their native language (mother tongue) which used in their daily conversation. The differences in articulation, intonations, and systematic writing and also meaning make speaking English is to be a frightening specter for some learners.

In this case, the teachers, of course, must creat comfortable and enjoyable atmosphere for learners in their class when learning activities will begin. It means do not forced the learners to do something out of his dept and take them into their self-confident by interesting activities. During it’s course, the communicative language teaching approach as we explain above particularly could help the teachers to rise self-confident of the learners. Using the communicative language teaching approach is not also provoke learners to speak, it’s also can eliminate the psychologycal barriers such as fear, inconfident, etc.

In this approach, the teacher could give a simple topic to be discussed in other to encourage learners to speak and be confident to share what in their mind is in their words; furthermore, give they time to search sources before they present it and do not correct every words that they say directly. Let them to share their ideas freely.